Skip to main content

Museum Lhokseumawe

Generasi Muda Lhokseumawe Antusias Belajar Seni Tutur Hikayat Aceh di Museum Kota

Lhokseumawe, 13 Juni 2026 – Suasana berbeda tampak di Museum Kota Lhokseumawe selama dua hari terakhir. Sebanyak 30 pelajar tingkat SMA/SMK/MA dari berbagai sekolah di Kota Lhokseumawe mengikuti kegiatan Belajar Bersama Seni Tutur Hikayat yang diselenggarakan pada 12–13 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang istimewa bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan mempraktikkan salah satu warisan budaya Aceh yang mulai jarang dijumpai di tengah kehidupan modern.

Mengusung semangat pelestarian budaya, para peserta tidak hanya mendapatkan materi tentang sejarah dan nilai-nilai yang terkandung dalam seni tutur hikayat, tetapi juga dibimbing secara langsung mengenai teknik penyajian hikayat yang baik dan menarik. Puncak kegiatan ditandai dengan penampilan para peserta yang tampil membawakan hikayat hasil latihan mereka selama mengikuti pelatihan.

Antusiasme peserta terlihat sejak hari pertama kegiatan. Banyak peserta mengaku baru pertama kali mendapatkan kesempatan belajar seni tutur hikayat secara langsung dari para pelaku dan pemateri yang berpengalaman. Mereka merasa beruntung karena dapat mengenal lebih dekat kekayaan budaya Aceh yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita orang tua dan masyarakat.

“Kegiatan seperti ini sangat langka. Kami bukan hanya belajar tentang budaya, tetapi juga mencoba mempraktikkannya secara langsung. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan tidak terlupakan,” ungkap salah seorang peserta.

Seni tutur hikayat merupakan tradisi lisan Aceh yang sarat dengan nilai sejarah, pendidikan, moral, dan keagamaan. Namun, di era digital saat ini, jumlah generasi muda yang mampu menuturkan hikayat semakin berkurang. Karena itu, pelatihan ini menjadi langkah penting dalam upaya menjaga keberlangsungan warisan budaya tak benda agar tidak hilang ditelan zaman.

Kepala Bidang Kebudayaan Kota Lhokseumawe, M. Novri Saputra Djaja, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu melahirkan generasi penerus yang mencintai dan menguasai seni tutur hikayat.

“Selama ini banyak yang menganggap seni tutur hikayat hanya dikuasai oleh ureung tuha atau orang-orang tua. Padahal hikayat adalah warisan budaya yang harus diteruskan oleh generasi muda. Kami berharap ke depan, dalam berbagai acara adat, kegiatan budaya, maupun peringatan-peringatan penting, kita dapat melihat anak-anak muda tampil percaya diri menuturkan hikayat Aceh. Itu akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi daerah kita,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya menjadi kunci utama agar tradisi yang diwariskan para leluhur tetap hidup dan berkembang. Ketika anak muda mulai tertarik mempelajari hikayat, maka masa depan budaya Aceh akan semakin terjamin.

Kegiatan Belajar Bersama Seni Tutur Hikayat ini sekaligus membuktikan bahwa warisan budaya tradisional masih mampu menarik minat generasi muda apabila dikemas dengan pendekatan yang tepat. Semangat para peserta selama dua hari pelatihan menjadi harapan baru bahwa seni tutur hikayat tidak hanya akan dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga akan terus bergema melalui suara-suara generasi penerus Aceh di masa depan.

Melalui kegiatan ini, Museum Kota Lhokseumawe kembali menegaskan perannya sebagai ruang belajar budaya yang terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan identitas budaya daerah. Dengan lahirnya para penutur muda hikayat, harapan menjaga nyala warisan budaya Aceh untuk anak cucu di masa mendatang semakin nyata.