Skip to main content

Museum Lhokseumawe

Mengenal Alat Musik Tradisional Khas Kota Lhokseumawe

Alat musik tradisional khas Lhokseumawe yang menyimpan harmoni alam, nilai kebersamaan, dan jejak budaya masyarakat Aceh.

Denting Harmoni dari Tanah Lokseumawe

Di tengah kehidupan masyarakat agraris Aceh pada masa lalu, bunyi khas Canang Ceureukeh sering terdengar mengiringi aktivitas masyarakat di sawah. Alat musik tradisional ini dimainkan saat menjaga padi maupun ketika musim panen tiba sebagai sarana hiburan sekaligus mempererat kebersamaan antarwarga.

Bagi masyarakat Lhokseumawe, Canang Ceureukeh bukan sekadar alat musik. Instrumen ini merupakan bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi simbol kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.

Mengenal Canang Ceureukeuh

Canang Ceureukeh merupakan alat musik tradisional yang berfungsi sebagai instrumen ritmis sekaligus melodis. Alat musik ini terdiri atas empat bilah kayu yang disusun secara horizontal di atas sebuah penopang dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul kayu.

Meski terlihat sederhana, setiap bilah menghasilkan karakter bunyi yang berbeda sehingga menciptakan perpaduan nada yang harmonis dan khas. Keunikan inilah yang menjadikan Canang Ceureukeuh sebagai salah satu alat musik tradisional yang memiliki nilai budaya tinggi di Kota Lhokseumawe.

Rahasia Harmoni pada Empat Bilah Kayu

Keistimewaan Canang Ceureukeuh terletak pada bahan pembuatannya. Dalam tradisi pembuatan alat musik ini digunakan empat jenis kayu yang berbeda, yaitu:

PosisiJenis KayuKarakter Bunyi
1Bak ManeeNada “Rakan”
2Bak PanahNada yang serupa dengan Rakan
3Bak BayuNada “Seuleumbom”
4Bak SirenNada “Chep-chep”

Pemilihan bagian kayu dilakukan secara khusus berdasarkan pengetahuan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tidak semua bagian pohon dapat digunakan karena setiap bagian memiliki karakter yang memengaruhi kualitas bunyi yang dihasilkan.

Dari Tradisi Lisan hingga Warisan Budaya Nasional

Tidak terdapat catatan pasti mengenai kapan Canang Ceureukeh pertama kali muncul di Aceh. Keberadaannya diwariskan melalui tradisi lisan dan praktik budaya masyarakat yang berlangsung secara turun-temurun.

Berbagai cerita berkembang mengenai sejarah penggunaannya. Sebagian masyarakat meyakini alat musik ini dimainkan oleh para petani saat menjaga sawah maupun ketika panen raya berlangsung. Tradisi tersebut menjadikan Canang Ceureukeh tidak hanya sebagai alat musik, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Melestarikan Warisan Leluhur

Seiring perkembangan zaman, keberadaan Canang Ceureukeh semakin jarang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Namun demikian, alat musik tradisional ini tetap dipertahankan melalui berbagai kegiatan seni budaya, pertunjukan tradisional, serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat dan para pelaku budaya.

Pelestarian Canang Ceureukeh menjadi penting karena alat musik ini tidak hanya merepresentasikan seni musik tradisional, tetapi juga menyimpan pengetahuan lokal, nilai kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat Lhokseumawe.

Pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Tonggak penting dalam pelestarian Canang Ceureukeh terjadi pada 21 Oktober 2022 ketika tradisi ini ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 414/P/2022.

Penetapan tersebut menjadi pengakuan atas nilai budaya yang terkandung dalam Canang Ceureukeuh sekaligus memperkuat upaya pelestariannya sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Koleksi Museum Kota Lhokseumawe

Koleksi Canang Ceureukeh yang tersimpan di Museum Kota Lhokseumawe menjadi media edukasi yang memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat luas. Melalui koleksi ini, pengunjung dapat memahami bagaimana masyarakat Aceh membangun tradisi, seni, dan kebersamaan melalui alat musik sederhana yang lahir dari lingkungan agraris.

Sebagai warisan budaya yang masih dikenal hingga saat ini, Canang Ceureukeh mengingatkan kita akan pentingnya menjaga dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.