Sebelum blender, mesin penggiling, dan peralatan dapur modern hadir, masyarakat Aceh mengandalkan alat-alat sederhana dari batu untuk mengolah berbagai bahan makanan dan rempah-rempah.
Ketika Batu Menjadi Bagian dari Dapur
Di masa lalu, dapur bukan hanya tempat memasak. Dapur merupakan ruang tempat berbagai aktivitas keluarga berlangsung, mulai dari menyiapkan makanan hingga mewariskan pengetahuan memasak dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebelum peralatan modern digunakan secara luas, masyarakat Aceh memanfaatkan berbagai alat berbahan batu untuk menumbuk, menghaluskan, dan menggiling bumbu masakan. Meski sederhana, alat-alat tersebut mampu membantu menghasilkan cita rasa khas yang masih dikenal hingga saat ini.
Koleksi yang tersimpan di Museum Kota Lhokseumawe menjadi saksi bagaimana masyarakat masa lalu memanfaatkan bahan alam di sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Capah, Penggiling Bumbu Tradisional
Capah merupakan alat yang digunakan untuk menggiling dan menghaluskan bumbu masakan. Terbuat dari batu yang kuat dan tahan lama, alat ini digunakan dengan cara menggerakkan batu penggiling di atas permukaan batu penumbuk.
Melalui alat sederhana ini, berbagai rempah seperti cabai, bawang, kunyit, dan rempah lainnya dapat diolah menjadi bumbu yang siap digunakan dalam masakan.
Lusong, Alat Penumbuk Serbaguna
Lusong merupakan wadah batu yang digunakan bersama alat penumbuk untuk menghancurkan atau menghaluskan berbagai bahan. Selain digunakan untuk mengolah bumbu, lusong juga dimanfaatkan untuk menumbuk obat-obatan tradisional.
Keberadaan lusong menunjukkan bagaimana masyarakat masa lalu memanfaatkan satu alat untuk berbagai kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Bate Seupeh dan Tradisi Menghaluskan Bumbu
Bate Seupeh merupakan alat penggiling bumbu yang banyak digunakan dalam kegiatan memasak tradisional. Bentuknya yang kokoh memungkinkan berbagai bahan dihaluskan dengan lebih efektif.
Sebelum hadirnya alat penggiling modern, benda seperti Bate Seupeh menjadi perlengkapan penting yang hampir selalu ditemukan di dapur masyarakat.
Ceprek Batee Bulat, Alat Sederhana yang Fungsional
Ceprek Batee Bulat juga digunakan untuk menghaluskan berbagai jenis bumbu dan sambal. Meskipun bentuknya sederhana, alat ini menunjukkan kecerdasan masyarakat masa lalu dalam menciptakan peralatan yang praktis dan tahan lama.
Batu yang digunakan dipilih secara khusus agar tidak mudah pecah serta mampu digunakan dalam jangka waktu yang panjang.
Rahasia Cita Rasa dari Dapur Tradisional
Banyak orang percaya bahwa bumbu yang diolah secara manual menghasilkan aroma dan tekstur yang berbeda dibandingkan bumbu yang dihaluskan menggunakan mesin modern. Proses menumbuk dan menggiling secara perlahan membantu rempah-rempah mengeluarkan aroma alaminya secara maksimal.
Karena itu, hingga saat ini masih ada masyarakat yang tetap menggunakan alat tradisional untuk mengolah bumbu tertentu.
Koleksi yang Menceritakan Kehidupan Sehari-hari
Berbeda dengan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan kerajaan atau peristiwa besar, koleksi dapur tradisional mengajak kita memahami kehidupan masyarakat dari sisi yang lebih dekat dan sederhana.
Capah, Lusong, Bate Seupeh, dan Ceprek Batee Bulat menunjukkan bagaimana masyarakat Aceh pada masa lalu memasak, mengolah bahan makanan, dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitarnya.
Melalui koleksi ini, Museum Kota Lhokseumawe tidak hanya menyimpan benda, tetapi juga menyimpan cerita tentang kehidupan sehari-hari yang pernah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Aceh.











