Skip to main content

Museum Lhokseumawe

Mengenal Sejarah Rencong sebagai Warisan Indatu

Rencong merupakan senjata tradisional serta benda pusaka yang sangat bernilai dalam masyarakat Aceh. Pada masa dulu, rencong digunakan sebagai alat senjata, alat perhiasan sehari-hari yang digunakan pria-pria dan juga sebagai alat perkakas.

Sejarah Rencong 

Dalam hal ini, sejarah rencong bisa dilihat dari dua sisi sebagai berikut:

Pertama, Sejak sebelum zaman Islam orang Aceh sudah menggunakan berbagai peralatan dalam penghidupan sosial budaya masyarakat. Adapun berbagai macam bentuk alat-alat atau perkakas itu antara lain seperti alat perang, kampak, pisau dan sebagainya. Sudah barang tentu dalam penciptaan berbagai macam alat yang dibutuhkan tersebut mempunyai cara pembuatannya masing-masing, sebagai tampak pada kampak genggap zaman batu tua (Paleothikum) menjadi kampak licin atau diasah dengan baik sehingga tajam, merupakan hasil ciptaan manusia dalam pembuatan alat-alat pada zaman batu baru (Neolithikum).

Demikian juga terjadi pada alat-alat pemotong seperti parang. Tentu saja pada mulanya berbentuk kasar, lama kelamaan berbentuk licin dan halus. Hal ini merupakan tugas dari pandai-pandai besi, yang di Aceh dikenal dengan nama Pandee Beusou. Pandee Beusou itu umumnya menciptakan alat-alat pemotong yang praktis untuk rumah tangga yaitu pisau yang pada mulanya berbentuk kasar kemudian secara perlahan-lahan mencapai kesempurnaannya.

Kedua. Rencong dilihat sebagai senjata perang. Alat-alat ini mula-mula berasal dari pisau yang digunakan secara praktis kemudian dikembang-kan untuk penggunaannya yang bersifat megis religus setelah dibentuk sedemikian rupa, sehingga menjadi senjata perang. Dia diciptakan oleh pandee beusou yang ahli. Di samping pandee beusou berkeahlian men-ciptakan bentuk yang indah, dia juga harus dapat menciptakan bentuk yang dapat membahayakan musuh, kalau digunakan untuk menikam.

Sebagaimana tiap naluri manusia menginginkan alat perkakas pri-badi, demikian juga bahwa alat yang seperti rencong diciptakan orang Aceh sebelum masuk Islam ke Indonesia. Untuk selanjutnya demikian pula bahwa rencong secara evolusi mencapai kesempurnaannya mulai sejak masuknya Islan ke Indonesia. Dengan perkataan lain bahwa rencong itu mulai dikenal sejak berdirinya kerajaan Islam yang bernama Pasee.

Sejak Pase tumbuh dan berkembang menjadi suatu kerajaan besar Islam dibagian utara pulau Sumatera, dia memerlukan pola strategi pertahanan yang kuat, sesuai dengan letaknya di jalur perdagangan laut Internasional yang mulai berkembang pula antara timur dan barat yakni antara jalur perdagangan antara Timur Tengah dan Asia Timur pada abad ke 13.

Sehubungan dengan pula strategi pertahanan tersebut, dia memerlu-kan anggota kekuatan militer yang tentunya dibaringi dengan persenja-taan-persenjataan dan peralatan perang yang cukup memadai. Alat senjata yang digunakan itu termasuk diantaranya senjata rencong. Penggunaan rencong sebagai alat senjata perang melawan Portugs (menurut para ahli sejarah) mulai dipakai untuk pertama kalinya ketika Sultan Ali Muqhayat-Syah memerintah kerajaan Aceh pada tahun 1514-1528.

Senjata rencong mulai menemui bentuk yang sebenarnya pada wak-tu itu sebagaimana yang kita kenal sekarang, yang kelihatannya lebih berorientasi pada kepercayaan Islam sebagai agama yang amat berpengaruh dalam penghidupan sosial budaya masyarakat Aceh.

Oleh karena itu rencong secara keseluruhan dapat dijelaskan sebagai berikut:

Gagang, yang melekuk kemudian menebal pada bahagian sikunya merupakan aksara Arab BA = بـ ) ب )

Bujuran, bujuran gagang tempat genggaman merupakan aksara س (س) = SIN

Bentuk-bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dengan gagangnya merupakan aksara MIMA ()

Lajur-lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya meru-

pakan aksara LAM الله

Ujung-ujung yang runcing dengan datar sebelah atas mendatar dan bahagian bawah yang sedikit melekuk keatas merupakan aksara HA = (-)

Rangkaian dari aksara BA, MIM, LAM, dan HA itu mewujudkan kalimah “BISMILLAH – بسم الله

Jadi jelas bahwa rencong merupakan reaksi dan perwujudan dari kalimah “BISMILLAH” dalam bentuk senjata tajam sebagai alat perang untuk mempertahankan musuh-musuh agama Islam dari rongrongan orang-orang yang anti Islam. Disamping itu rencong dipergunakan juga sebagai alat perhiasan sehari-hari.

Macam-macam Jenis Rincong 

Macam-macam jenis rincong sebagai berikut:

  1. Rincong Meupucok

Rincong meupucok merupakan rencong yang mempergunakan ukiran emas pada gagangnya bagian atas. Gagang rencong meupucok kelihatan kecil pada bahagian bawah, hingga mengembang besar pa-da bahagian atasnya. Bahagian bawah yang membungkus puting matanya bebentuk kecil dan terus membesar pada bagian atasnya.

     2. Rincong Meucugek.

Rincong meucugek adalah rencong yang mempergunakan cugek (bergagang lengkung 90°). Cugeknya itu melengkung ke bagian be lakang mata rencong kira-kira 8 10 cm, sehingga gagang (sumbu nya) itu berbentuk siku-siku. Pada sumbunya diberi cugek untuk mengefektifkan pemakaiannya. Rencong model ini lebih menguta makan penggunaannya di dalam medan tempur pada saat-saat terja di kasus perkelahian antara seorang lawan seorang.

3. Rincong Meukuree

Rincong meukuree tidak dititik beratkan pada bentuk gagangnya, tetapi berpusat pada tanda-tandanya yang terdapat pa da mata rencong. Tanda-tandanya kelihatan bermacam-macam pula terutama dalam bentuk-bentuk gambar tertentu seperti misalnya bunga, ular, lipan, akar kayu dan daun kayu. Gambar-gambar yang terdapat itu tidak sengaja diperbuat oleh pandai besi ketika rencong itu ditempa. Tanda-tanda gambar itu sudah ada dengan sendirinya. kemudian oleh pandai-pandai besi diberi nama kuree, yang akhirnya rencong yang ada kuree (tanda gambar) pada matanya justru itu di-beri nama rincong meukuree.

4. Rincong Pudoi

Pudoi artinya tidak sempurna atau setengah. Bila seekor ayam yang ekomya tidak sempurna tumbuhnya, maka ayam tersebut di-katakan pudoi (ayam yang tidak berekor). Karena itu sebilah ren-cong yang pendek gagagnya dikatakan rincong pudoi.